jump to navigation

Dan ibu-ibu berjilbab pun berebut angpau February 9, 2009

Posted by puji in Islamic.
trackback

Beberapa waktu yang lalu terjadi diskusi di sebuah milis Islam Departemen Perindustrian tentang fenomena ibu-ibu berjilbab yang berebut angpau diklenteng pada hari tahun baru Imlek. Fenomena yang memiriskan hati, berikut diskusi tersebut

Member A:

“Bagai mana perasaan Bapak / Ibu bila melihat saudara saudara kita yang berebut angpaou di klenteng adalah ibu-ibu yang mengenakan jilbab ? Adakah saudara kita yang bermata sipit berebut daging Qurban saat Idul Adha ? Sebagai sesama muslim sudahkah kita berbuat sesuatu untuk membatu meringankan beban saudara kita tersebut ? Mohon saran dan tanggapan teman-teman NURUL ILMI

Member B:

Seketika rasanya teriris……tapi itu hanya satu fenomena saja dari sekian banyak seperti: seorang ibu dengan berjilbab mengantarkan anaknya ikut idola….dsb

– remaja berjilbab yang ikut joget2 atau nyanyi….(lihat tv)

– dan masih banyak lagi

Saya sendiri berpendapat (maaf tidak bermaksud mengurangi nilai kemuliaan berjilbab) ” berjilbab merepresentasikan keimanan seseorang tetapi tidak untuk semua orang…”. lihat artis berjlbab hari ini….besok “bertelanjang”

Barangkali kita perlu menspesifikasi tentang kemiskinan iman, ekonomi dsb. Fenomena yang ada, setidaknya bisa diidentifikasikan sebagai miskin iman dan ekonomi. Persoalan miskin ekonomi ada ukurannya, tapi yang berat persoalan miskin iman….saya kira orang yang kaya iman dan miskin ekonomi….tidak akan minta2 atau sampai mencuri. tapi sebaliknya orang miskin iman dan kaya ekonomi masih bisa minta2 sampai mencuri (korupsi)

Menurut saya pribadi, negeri ini kaya ekonomi (sumberdaya alam) tapi masalahnya adalah masyarakat kita bisa diindikasikan dengan miskin iman Dari mana: perhatikan saja orang yang berjamaah di masjid tidak sebanding dengan jumlah orang islam…….

Mudah2a kita tidak termasuk orang miskin iman…..amiin.

—————————————————————–

Member C:

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Saya mencoba menambahkan dan menguatkan bahwa yang paling dominan dalam realita umat Islam sekarang ini adalah *lemah iman*

Lalu, mengapa sampai ada ibu-ibu yang berebut angpau di klenteng ketika hari raya cina? Sebagiannya telah dijawab, akan tetapi disini sayamencoba untuk menganalisis permasalahan lebih jauh…

Sebelumnya saya tambahkan bahwa ada fenomena yang lebih tragis, misalnya ada ibu yang membunuh anak-anaknya kemudian bunuh diri karena kesulitan ekonomi, kesulitan ekonomi begitu besar dalam pandangannya sampai dia mengambil keputusan untuk bunuh diri. Tentu ini sikap yang salah, akan tetapi apakah benar kita tidak mempunyai andil sehingga terjadi fenomena seperti itu? Atau justru mereka hanya korban dari keserakahan kita, korban dari kelemahan iman kita, korban dari cinta dunia dan enggan akhirat kita dan korban …korban kita?

Coba kita telusuri. Pertanyaannya adalah, mengapa mereka berebut angpau? Tentu kondisi keuangan rumah tangga mereka yang kekurangan.

Mengapa kondisi keuangan rumah tangga mereka kekurangan? Karena suami mereka sebagai tulang punggung ekonomi keluarga tidak mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak.

Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah, mengapa para suami tidak mendapatkan pekerjaan yang layak?

Seandainya di negeri ini ada 20 juta posisi pekerjaan yang layak, banyak dari

posisi tersebut yang diserobot oleh wanita, padahal tulang punggung keluarga adalah di suami. Maka yang terjadi adalah banyak keluarga yang kepala keluarganya tidak mendapatkan pekerjaan yang layak dan terjadilah fenomena yang telah disebutkan diatas

Mereka hanyalah korban dari sikap serakah kita, mereka adalah korban dari

kelemahan iman kita.

Banyak dari wanita-wanita yang telah melanggar firman Allah ta’ala:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu” (Al Ahzaab: 33)

Saya tidak katakan bahwa tidak boleh bagi wanita untuk bekerja, tetapi disana ada rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar, seperti larangan ikhtilath, tabarruj dan seterusnya. Wanita punya lahan-lahan karir khusus seperti bidan, perawat, dokter, mengajar anak-anak dan yang semisalnya. Kalau sekedar urusan ngetik-ngetik dikantor, bapak-bapak masa nggak bisa?

Saya khawatir, bahwa hal ini masuk dalam keumuman ayat

“Dan kamu menganggapnya sebagai yang ringan saja, padahal dalam pandangan Allah adalah sesuatu yang besar”(An Nuur: 15)

Semoga ini menjadi instropeksi kita…

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: