jump to navigation

Mengapa kita harus belajar ilmu syar’i? November 27, 2007

Posted by puji in Islamic.
trackback

Tujuan Penciptaaan makhluk
Ketahuilah wahai saudaraku yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, bahwasanya Allah azza wa jalla menciptakan alam semesta ini bukanlah karena iseng atau sekedar main-main, akan tetapi Allah menciptakan alam semesta ini dengan tujuan yang pasti yakni untuk menguji siapa diantara hamba-Nya yang pantas untuk memasuki surga yang penuh kenikmatan dan siapa diantara hamba-Nya yang pantas untuk disiksa di neraka. Allah berfirman

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu’minun:115)

Allah juga berfirman

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (Al-Anbiyaa:16)

Kemudian Allah menjelaskan tujuan penciptaan kehidupan ini

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ * الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk:1-2)

Fudhail bin ‘Iyad menjelaskan bahwa yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai contoh).

Perhatikanlah wahai saudaraku, Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya! akan tetapi yang paling baik amalnya, sehingga dalam beramal perlu ilmu karena amalan tanpa didasari dengan ilmu itu tidak diterima, selain itu beramal perlu keikhlasan, hanya karena Allah saja.

Allah juga menjelaskan bahwa tujuan penciptaan adalah untuk beribadah kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.(Adz-Dzariaat: 56)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Makna ibadah adalah taat kepada Allah dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan-Nya melalui lisan-lisan para rasul”

Beliau menjelaskan lagi bahwa “Ibadah adalah hal yang mencakup segala perkataan dan perbuatan, baik yang lahir maupun yang bathin yang dicintai dan diridhai Allah

Allah mengirim utusan yang harus ditaati

Allah azza wa jalla tidak membiarkan begitu saja makhluk yang telah diciptakan-Nya, bahkan membimbing mereka dengan diutusnya para rasul yang bertugas untuk menunjukkan jalan kebaikan dan memperingatkan dari jalan-jalan keburukan.

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَإِن مِّنْ أُمَّةٍ إِلَّا خلَا فِيهَا نَذِيرٌ

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Faathir: 24)

Taat kepada Rasul berarti juga taat kepada Allah

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: ’Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Ali-Imran: 31)

Rasulullah shalallahu wa’alaihi wa sallam bersabda

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى” فقيل : ومن يأبى يا رسول الله؟ قال: “من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني دخل النار

“Semua umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan”. Para Sahabat bertanya “Ya Rasulullah, siapa yang enggan tersebut?” Beliau menjawab “Barangsiapa yang taat kepadaku, niscaya akan masuk surga dan barang siapa yang mendurhakaiku maka dialah yang telah enggan masuk surga” (HR. Bukhari)

Adakah jalan selain dengan mempelajari Al-Quran dan Hadits, kita dapat memahami apa-apa yang diperintahkan dan dilarang?

Paham tidaknya seseorang tentang Islam merupakan salah satu tanda keselamatan seseorang, dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu wa’alaihi wa sallam bersabda

من يرد الله به خيراً يُفقهه في الدين

Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya pandai dalam agamanya (HR. Bukhari dan Muslim)

Apakah kebaikan di dunia itu? Kebaikan di dunia adalah ilmu dan amal shalih. Adapun kebaikan di akhirat adalah surga.

Rasulullah shalallahu wa’alaihi wa sallam menegaskan bahwa amalan yang tidak dicontohkan tidak akan diterima sebagaimana sabdanya

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintahnya, maka amalan tersebut tidak diterima” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, menuntut ilmu syar’i menjadi kewajiban setiap muslim, yakni ilmu yang apabila seseorang tersebut tidak mengetahuinya dapat terjatuh dalam pelanggaran aturan Allah, apakah berupa melakukan keharaman yang seharusnya dia tinggalkan atau berupa meninggalkan kewajiban yang seharusnya dia laksanakan, yakni ilmu tentang tauhid, aqidah, shalat, wudhu, puasa dan lain sebagainya.

Referensi
1. Syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Utsaimin
2. Kitabul Ilmi, Syaikh Utsaimin

Comments»

1. maryam - March 4, 2008

mengenai ilmu tauhid yg wjb dipelajari, n menyinggung konsep akal yg menjadi keutamaan manusia, menurut bpk apakah akal kita bisa mencapai tarap tauhid itu pak? mis: konsep knp ada Tuhan (wl secara fitrah stiap manusia tdk akan ada yg mengingkari adanya Tuhan) dan hal lainnya…

2. puji - March 4, 2008

Tauhid ada 3 macam:
– Tauhid Rububiyah
– Tauhid Uluhiyah
– Tauhid Asma wa Sifaat

TAUHID RUBUBIYAH
Secara umum setiap manusia secara fitrah mengimani Tauhid Rububiyah, yakni mengimani bahwa Allahlah satu-satunya Pencipta, Pemberi Rizki, Pengatur Alam Semesta.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi” (A’raaf: 172)

Bahkan orang kafirpun meyakininya, Alllah mengisahkan keadaan mereka:

“Katakanlah: Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab:Allah. Maka katakanlah:Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]” (Yunus:31)

Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifaat harus dipelajari, kita tidak akan mengetahuinya kecuali dengan belajar.

TAUHID ULUHIYAH
Tauhid Uluhiyah yakni meyakini bahwa Allahlah satu-satunya yang berhak diibadahi. Sebagai contoh, betapa banyak orang yang datang ke kuburan orang-orang yang dianggap sebagai wali, kemudian berdoa disana kepada penghuni kubur. Perbuatan ini merupakan syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari lingkup keislaman, mengapa mereka melakukannya? Mereka melakukan karena kebodohannya, mengapa mereka bodoh? Mereka bodoh karena tidak belajar.

TAUHID ASMA WA SIFAAT
Tauhid Asma dan Sifaat adalah keyakinan tentang keesaan Allah subhanahu wa taala dalam nama dan sifat-Nya yang terdapat dalam Al Quran dan Al Hadits dilengkapi dengan mengimani makna-maknanya dan hukum-hukumnya. Sebagai contoh, tahukah kita bahwa Allah swt setiap sepertiga malam terakhir turun ke langit dunia dan akan mengabulkan do’a orang yang berdo’a, memberi orang yang meminta dan mengampunkan orang yang memohon ampun pada saat sepertiga malam tersebut? Kita tidak mengetahuinya kecuali dengan belajar.

MARAKNYA KESYIRIKAN
Kesyirikan ada dimana-mana, ada disekitar kita, kalau kita tidak belajar dan berhati-hati maka akan celaka. Kita tidak pernah mendengar ada iklan baik di TV, radio dan koran-koran dengan tujuan menjual narkoba bukan? Mengapa demikian? Karena konsumen narkoba jumlahnya sedikit dan masyarakat menganggap bahwa hal tersebut merupakan dosa dan membawa bahaya.

Tetapi kesyirikan dan kekufuran dijajakan dimana-mana, di TV, radio, koran-koran, dijual benda-benda yang dianggap keramat, ramal masa depan, pengobatan dengan minta bantuan jin yang mereka namakan pengobatan alternatif, dan banyak lagi perkara-perkara kesyirikan. Pasang iklan di media itu mahal sekali, tetapi mengapa mereka tetap pasang iklan di sana? Menjual kekufuran disana? Jawabannya adalah karena konsumennya banyak dan banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa hal itu merupakan kesyirikan dan kekufuran.

URGENTNYA BELAJAR
Kita lahir dalam keadaan bodoh,tidak tahu apa-apa, Allah berfirman:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (An Nahl:78)

Oleh karena itu, kita harus belajar dan mengamalkan apa yang telah diketahuinya.

Nabi saw bersabda “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah menjadikannya dia paham tentang perkara agamanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, barangsiapa yang tidak paham perkara-perkara agama, maka kita mengkhawatirkan bahwa dia termasuk orang-orang yang tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah. Kebaikan di dunia adalah ilmu dan amal shalih, kebaikan di akhirat adalah balasan surga.

Orang yang enggan mempelajari agama, maka terancam dengan ayat

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi kamu melupakannya, dan begitu(pula) pada hari inipun kamu dilupakan”. (Thahaa:124-126)

Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai manusia yang bertauhid dan menjauhi kesyirikan, amiin.

3. maryam - March 6, 2008

trm ksh penjelasnnya pa’
mmg manusia dituntut utk menggali ilmu, terkadang sy berfikir apa yg sy tau hanya berupa dogma dari ustadz/ ortu saja (maaf!) tanpa ada keinginan buat mencari lbh tau eksistensi knp sesuatu harus begini dan hrs begitu…demikian jg dg hal yg menyangkut aqidah,,
sgl sesuatu di dunia ini terjadi krn sebab-akibat, smuanya pasti bs dijelaskan secara aqli (walaupun hal ini tergantung dr pemahaman dasar …iya gitu?🙂 )
selanjutnya yg sy ingin tau apakah hal yg menyangkut aqidah tsb ( yg 3 mcm itu) apakah sesuatu yg “SAKLEK”, maksudnya kt menerima hal tersebut sebagai ilmu “tho” ataukah kita diijinkan untuk mengkaji lbh dalam knp harus begini-begitu?
masalahnya sy pernah menghadiri majelis yg mengungkit itu, trs terang m’buat sy ikut b’fikir ‘n bingung
syukron pa’

4. puji - March 8, 2008

LARANGAN TAKLID
Ketika sampai kepada kita suatu permasalahan yang disandarkan kepada agama, apakah dari seseorang atau membaca buku, maka hendaknya kita tidak menerima begitu saja kecuali telah jelas bahwa hal tersebut memang bagian dari agama kita. Jadi, yang diperintahkan adalah memastikan bahwa hal tersebut benar-benar merupakan bagian dari agama atau hanya yang diaku-aku sebagai bagian dari agama, yakni memastikan apakah hal tersebut ada dasarnya dari Al-Qur’an atau As-Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman Shalafus Shalih atau hanya sesuatu yang dibuat-buat yang kemudian disandarkan kepada agama. Kita tidak diperbolehkan taklid dalam hal aqidah, yakni mengikuti begitu saja tanpa melihat dalilnya.

Dalam hadits tentang pertanyaan kubur, yang hadits ini diriwayatkan oleh banyak Imam Ahli Hadits, tiap manusia akan ditanya 3 hal:
– Siapa Rabmu
– Apa agamamu
– Siapa Nabi yang diutus kepadamu

Orang yang Islamnya benar, maka akan dikokohkan dalam menjawab, Allah Rabbku, Islam agamaku dan Muhammad Nabiku.

Adapun orang yang ragu-ragu, dia akan menjawab, “Ee..ee.aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka akupun ikut mengatakannya”

Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dalam Syarh Utsuluts Tsalatsah menjelaskan

“Para ulama mengambil dalil dari jawaban orang yang sedang diuji di kubur “Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka akupun ikut mengatakannya” bahwasanya taklid tidak diperbolehkan dalam menjawab ketiga pertanyaan ini, yakni tentang pertanyaan tentang siapa Rabb yakni siapa yang diibadahi, apa agamamu dan siapa nabimu”

WAJIBNYA TASLIM (MENERIMA) AGAMA INI
Akan tetapi, ketika telah jelas bahwa hal tersebut memang bagian dari agama, maka kewajiban kita adalah taslim (menerima) hal tersebut. Tidak ada celah sedikitpun bagi seorang muslim untuk menolak sesuatu yang telah jelas baginya bahwa hal tersebut merupakan bagian dari agama, Allah swt berfirman

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An Nisaa’: 65)

Adapun menghakimi/mengukur agama dengan akal yakni jika ajaran agama sesuai dengan akalnya diterima, jika tidak sesuai dengan akalnya ditolak, maka hal seperti ini tidak diperbolehkan.

Jika agama dihakimi/diukur dengan akal, lalu menurut akal siapa? Akalnya orang-orang shalih tentu berbeda dengan akalnya ahli maksiat, akalnya orang pandai tentu beda dengan akalnya orang bodoh. Mengambil harta negara dianggap mengambil hak mereka oleh para koruptor, membantai manusia di Afghanistan dianggap baik oleh tentara Amerika, mabuk-mabukan baik menurut para pemabuk, mengumbar aurat baik menurut para binatang filem.

Sesungguhnya setiap ajaran Islam pasti sesuai dengan akal yang sehat, akal yang fitrahnya terjaga, akal yang tidak terkotori oleh bid’ah dan syahwat, kalau ada sebagian ajaran yang menurut kita tidak baik, maka kita harus introspeksi diri, barangkali ada sesuatu dalam diri kita.

AKAL YANG FITRAHNYA TERJAGA AKAN SELARAS DENGAN ISLAM
Sebagai contoh tentang keyakinan dimanakah Allah?

Allah katakan,
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy” (A’raaf: 54)

Kalau kita tanya ke anak-anak kecil yang fitrahnya masih lurus, niscaya mereka bisa menjawab dengan benar ketika kita tanya dimanakah Allah, mereka menjawab Allah diatas, Allah dilangit. Saya pernah menguji beberapa keponakan saya. Yang masih kecil dapat menjawab dengan benar ketika saya tanyakan, “Dimana Allah”. Tetapi begitu saya tanyakan ke keponakan yang sudah agak besar, sudah sekolah, dia menjawab “Allah ada di hati”. Kemudian saya kejar, siapa yang mengatakan Allah ada di hati? keponakan saya yang sudah sekolah menjawab, “Guru di sekolah”. Begitulah adanya, akal kita, fitrah awalnya lurus, tetapi kemudian dikotori oleh pengaruh dari luar, pengaruh bid’ah, pengaruh sesuatu yang bukan dari agam tetapi dianggap sebagai bagian agama.
Betapa banyak orang jika ditanya “Dimanakah Allah” mereka tidak tahu.

AKAL YANG SEHAT AKAN SELARAS DENGAN ISLAM
Contoh lain, tentang poligami dalam Islam. Islam membolehkan poligami bagi laki-laki, lalu datang sebagian muslimah yang merasa dadanya sesak dengan ajaran poligami. Jika dia mengatakan bahwa poligami menurutnya jelek, maka bisa saja hal itu menyebabkan dia keluar dari lingkup keIslaman, tidak beriman, sebagaimana surat An-Nisaa: 65 diatas.

Akan tetapi coba jika kita tanyakan kepada muslimah yang dadanya sesak dengan ajaran poligami ini, “Mba, misalkan saja Mba punya kakak perempuan yang sudah berkeluarga dan punya beberapa anak-anak yang masih kecil-kecil dimana mereka sangat membutuhkan biaya dan didikan seorang ayah, tiba-tiba suami kakak perempuan Anda meninggal dunia!, kemudian datanglah laki-laki yang baik agamanya, kemudian akan menjadikan kakak Anda sebagai istri keduanya, lelaki yang akan membimbing, melindungi dan menanggung kehidupan kakak perumpuan Anda dan anak-anaknya yang masih kecil, boleh nggak? Kalau kita tanya seluruh wanita di muka bumi, jangankan seorang muslimah, wanita kafirpun saya yakin akan menjawab boleh. Bagaimana jika Islam menutup pintu poligami, tentu hal ini malah membawa madzarat bagi para muslimah seperti contoh kasus diatas. Ini sebagai contoh betapa lemahnya akal kita, muslimah yang tadinya dadanya sesak dengan poligami kemudian sadar betapa Islam membawa rahmat bagi seluruh alam, hal ini menunjukkan kadang akal bisa berubah sehingga perlu bimbingan syar’i.

Jadi yang perlu ditekankan disini adalah, setiap ajaran Islam adalah baik, apakah permasalah aqidah ataupun amaliah, semua sesuai dengan akal yang sehat, sesuai dengan akal yang terjaga fitrahnya. Adapun akal yang penuh dengan kebodohan, penuh dengan kemaksiatan, penuh dengan bid’ah, penuh dengan kekufuran dan penyimpangan, maka bisa jadi sebagian ajaran Islam dianggap tidak sesuai dengan akal.

Allah berfirman tentang orang-orang munafik, ” Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (Al Baqarah :8)

Allahu a’lam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: