jump to navigation

Logika Berfikir Admin February 13, 2008

Posted by puji in Islamic.
trackback

Bismillahirrahmaanirrahiim

Menyiapkan sebuah server merupakan hal biasa bagi seorang admin. Admin tentu akan menginstall dan mengkonfigurasi server agar resource yang ada dapat bekerja maksimal serta tidak ada bug-bug yang dapat membahayakan servernya. Misalkan saja admin diminta untuk menyiapkan server yang akan digunakan sebagai *web server*. Sistem operasi Linux menjadi pilihannya karena terkenal sangat stabil.

Install Paket Aplikasi yang Diperlukan Saja

Pada saat installasi, sampailah admin pada tahapan untuk menentukan paket aplikasi apa saja yang akan disertakan dalam proses installasi tersebut.Ada 3 kategori paket aplikasi yang harus admin pilah-pilah:

  • Paket utama server [perlu diinstall]
  • Paket pendukung, seperti utilitas [perlu diinstall]
  • Paket yang tidak diperlukan [tidak perlu diinstall]

Admin mulai memilah-milah paket aplikasi yang akan diinstall

  • Postfix, mmm…tidak perlu, karena server ini hanya akan digunakan sebagai web server-bukan mail server
  • Apache, …perlu, inilah paket utama web servernya yang harus diinstall di server
  • Bind, mmm, ..tidak perlu, karena server ini hanya akan digunakan sebagai web server-bukan DNS server
  • Mysql, perlu, inilah paket database server yang akan digunakan dengan Apache.
  • Midnight Commander, mmm…perlu utilitas ini sangat penting untuk manajemen file
  • SSH Server, mmm…perlu. Walaupun server ini sebagai web server, tapi SSH server diperlukan agar sistem dapat diakses secara remote.
  • Dan seterusnya dan seterusnya…

Mengapa admin memasukkan program ke server *hanya* yang diperlukan saja? Dia tidak memasukkan KDE, Mail server, DNS server, dan seterusnya dari paket-paket yang tidak diperlukan dalam membangun web servernya? Setidaknya ada 2 alasan penting mengapa admin hanya memasukkan paket program yang diperlukan saja:

  1. Semakin banyak paket program yang berjalan, maka resource server akan banyak terkuras. Kalau kebutuhan hanya sebagai web server, mengapa server harus capek-capek membagi resource prosessor, RAM dan hardisk untuk Mail Server, DNS, X-Windows dan paket-paket yang tidak diperlukan?
  2. Semakin banyak paket program yang berjalan, maka potensi bug yang dapat diexploitasi semakin banyak.

Demikianlah pilihan admin yang cerdas, dia memasukan paket aplikasi ke dalam servernya hanya paket-paket yang diperlukan saja, apakah berupa paket utama atau paket pendukungnya. Admin yang cerdas tentu tidak akan memenuhi servernya dengan paket-paket yang sebenarnya tidak diperlukan.

Mengejar Surga dengan Tenaga Sisa
Saudaraku …
Untuk server saja kita mampu memilihkan yang terbaik baginya, lantas bagaimana untuk diri kita sendiri? Tidakkah kita lupa dengan firman Allah ta’ala

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariaat: 56)

Mengapa waktu, tenaga, dana dan seluruh resource kita lebih banyak untuk hal-hal yang bukan tujuan utama kita? Mengapa ketika kita diajak untuk shalat berjamaah, kita lebih sering mengatakan “Lagi tanggung..”. Ketika kita diajak untuk menghadiri majelis ilmu syar’i, kita lebih sering mengatakan “Sedang sibuk…”. Ketika ada kesempatan berinfaq kita mengatakan “Tidak punya receh..” Kita begitu bersemangat mengejar studi S1, S2 bahkan S3, tetapi tata cara mandi wajib dan wudlu yang sesuai sunnah saja kita tidak mengetahuinya, naif sekali bukan?. Coba kita buka agenda kita, adakah tertulis disitu agenda-agenda untuk akhirat kita?! Wahai manusia yang sangat perlu untuk dikasihani, engkau berharap surga tetapi mengejarnya dengan sisa-sisa, tidakkah engkau malu?

Manusia yang cerdas seperti admin yang cerdas yang menggunakan resource untuk tujuan utamanya, sebagaimana web server maka resource server digunakan untuk menjalankan fungsi web server. Demikain juga manusia, manusia mempunyai tugas utama yakni beribadah dengan berbagai bentuknya.

Saudaraku …
Waktu kita adalah modal kita, waktu di akhirat ibarat kotak-kotak penyimpanan bekal kita. Satu Jam dari waktu kita ibarat 1 kotak, 1 hari waktu kita sebanding dengan 24 kotak. Nanti di akhirat kita akan membuka kotak-kotak perbekalan tersebut, jika jam demi jam waktu kita diisi dengan sesuatu yang sia-sia, sesuatu yang tidak ada manfaatnya di akhirat, maka kita akan mendapati kotak tersebut kosong. Jika waku tersebut diisi dengan sesuatu yang bermanfaat di akhirat, maka kotak tersebut ada isinya. Celaka sekali orang yang ketika membuka kotak tersebut tetapi selalu mendapat kekecewaan karena isinya kosong.

Saudaraku …
Jadilah orang yang zuhud yakni orang yang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat. Orang yang zuhud seperti admin yang cerdas yang tidak memasukkan paket aplikasi ke dalam servernya kecuali yang dibutuhkan saja.

Hidup Itu Harus Seimbang

Orang tua kita sering menasehatkan bahwa hidup harus seimbang, dunia dan akhirat. Nasehat ini sangatlah baik, tetapi seringkali disalahpahami, ketika seseorang begitu rajin beribadah untuk mengumpulkan bekal di akhirat, maka orang-orang dengan mencibir mengatakan “Hidup harus seimbang, jangan akhirat melulu…”Betul sekali bahwa dunia dan akhirat harus seimbang. Saudaraku, berapa tahun kita akan hidup di dunia? 70 tahunkah? 80 tahunkah?. Lalu, berapa tahunkah kita akan hidup di akhirat? 1.000 tahunkah? 1.000.000.000 tahunkah? Saudaraku, kita akan hidup di akhirat lebih dari itu, lebih lama dari 1 milyar tahun bahkan kita akan kekal di akhirat kelak.Demi Allah saya tidak mengatakan “Kalau begitu tinggalkan saja urusan dunia!”. Saya sama sekali tidak mengatakan demikian, saya hanya mengatakan apakah kita sudah menempatkan proporsi dunia dan akhirat secara seimbang? Sudahkah kita mempersiapkan untuk akhirat kita secara semestinya? Atau malah kita hanya mempersiapkan akhirat kita hanya dengan sisa-sisa, tenaga sisa, waktu sisa, dana sisa…semua serba sisa-sisa.Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (Al Hadiid: 20-21)

Terakhir Saudaraku, Allah mengingatkan kita dalam sebuah surat yang Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang surat ini, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada manusia kecuali hanya surat ini saja, niscaya telah mencukupi”, yakni surat Al-Ashr

“Demi waktu. Sesungguhnya semua manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk-Nya sehingga kita dapat menjadi manusia yang cerdas, manusia yang zuhud, manusia yang sadar diri, manusia yang mengejar surga dengan resource yang maksimal, bukan dengan sisa-sisa. Allahu ta’ala a’lam

Comments»

1. rosid - February 13, 2008

subhanalloh
hatiku bergetar membaca tulisanini

2. budi jati achmadi - February 13, 2008

iya hidup memang harus seimbang..
tapi gimana nentukan nilai keseimbangan itu…..?????

3. wandana - February 13, 2008

Sepakat.. :) dunia dan akhirat tentu musti kita raih, apapun profesi kita. Seimbang…?

dunia fana akhirat kekal

mungkin prinsip ini yang harus kita jadikan parameter dlm menentukan skala prioritas….

4. puji - February 14, 2008

Seimbang tidak musti fifty-fifty. Seimbang artinya effort yang kita keluarkan sebanding dengan tujuan yang akan kita raih, kalau tujuannya besar tentu effortnya juga harus lebih besar.

Kalau kita itung dengan kalkulasi matematik:

Lama_Waktu_DiAkhirat/Lama_Waktu_DiDunia = Tak_terhingga

Jadi effortnya harusnya tercurah untuk persiapan di akhirat. Hasil akhirnya adalah konsep ZUHUD, yakni MENINGGALKAN SEGALA SESUATU YANG TIDAK BERMANFAAT DI AKHIRAT. Konsep ini sama seperti admin yang tidak menginstall paket program kecuali hanya yang dibutuhkan saja.

Siapkah kita untuk menjadikan ZUHUD sebagai lifestyle kita?
Kalau kita tidak menjadikan ZUHUD sebagai lifestyle kita, ngaku atau tidak sebenarnya kita terbawa oleh hawa nafsu. Otak kita, akal kita mengatakan bahwa ZUHUD adalah lifestyle yang paling bagus, sebagaimana admin gak mau nginstall paket yang gak kepakai

5. adit - February 15, 2008

waduh..

pengen ngerti smua tapi yang masuk dikit…

tapi tar di baca lagi deh…

makasih atas bacaan nya…

6. Achmad - February 19, 2008

Memang kehidupan haruslah seimbang.

7. didin sadidin - February 27, 2008

Tajem banget, malu sich sebenarnya untuk mengomentari tulisan ini

8. Hendi - March 6, 2008

Alhamdulliah sahabat atas pencerahannya , sungguh kita kadang terlena di kehidupan ini, dan lupa akan kehidupan yang maha kekal nanti.

9. Dedy Gunanto - September 4, 2008

wah, bagus sekali Pak Puji.

Kehidupan memang harus seimbang, kalo bisa malah lebih berat pada akhirat.

Salam dari Dedy Gunanto. :-)

10. dewi rahmawati - December 12, 2008

ya allah,, mudah2 an hamba adalah salah satu hamba-Mu yang diberikan berkah dan selalu ada berada di jalan-Mu yang benar,amin.

11. achank - January 15, 2009

YA ALLOH AMPUNILAH DOSA-DOSAKU,YA ALLOH HAMBAH DAH DI GELAPIN OLEH GEMERLAPNYA DUNIA,YA ALLOH TUNJUKILAH HAMBAH JALAN YANG LURUS,SELURUS PETUNJUKMU KE RASULMU,ENGKAU MAHA BESAR ENGKAU MAHA KUASA,SAUDARA N SAUDARIKU TERIMAKASI ATAS ARTIKELNYA,MOGA-MOGA Q TA SEMUA MENJADI HAMBAH2 YANG SUKSES DI DUNIA DAN DI AKHERAT KELAK,,AMIIN,

12. puji - January 16, 2009

Postingan ini responnya banyak banget, jadi pingin menambahkan sesuatu yang sangat penting, yakni masalah ilmu. Kaitan ilmu dengan “cara pandang terhadap akhirat”

Misalnya begini, kalau kita tawarkan ke anak kecil 2 pilihan:
- Makanan kesukaannya. Misalnya permen, coklat, es krim dll.
- Uang 1 juta

Anak kecil yang berumur 2 tahunan tersebut hampir pasti memilih makanan kesukannya, bukan uang 1 juta. Coba tebak, mengapa? Karena anak kecil tersebut tidak berilmu sebagaimana kita orang-orang dewasa, artinya ilmu sangat berpengaruh terhadap benar/tidaknya pilihan hidupnya.

Allah telah mengisahkan dalam Al-Qur’an tentang Qarun

“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya.

Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia:”Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu:”Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (Al Qashash:79-80)

Demikianlah pola pikir orang yang berilmu, mereka meyakini bahwa pahala dan janji-janji Allah lebih baik daripada apa-apa yang di depan mata, sebagaimana uang 1 juta lebih baik daripada sekedar es krim, dan akhirat bukanlah uang 1 juta lhoo …